Arsip untuk ‘Ibu’ Kategori

Post

Tangan yang indah

In Ibu on 28 November 2008 oleh nurHartato

(Kepada siapa saja yang masih ada ibu… )
sebuah renungan.

Ketika ibu saya berkunjung, ibu mengajak saya untuk berbelanja bersamanya kerana dia menginginkan sepasang baju yg baru. Saya sebenarnya tidak suka pergi berbelanja  bersama dengan orang lain, dan saya bukanlah orang yang sabar, tetapi walaupun demikian kami pergi juga ke pusat perbelanjaan membeli baju tersebut. Kami mengunjungi setiap butik yang menyediakan pakaian wanita, dan ibu saya mencoba sehelai demi sehelai pakaian dan mengembalikan semuanya. Seiring hari yang berlalu, saya mulai penat dan kelihatan jelas riak2 kecewa di wajah ibu.

Akhirnya pada butik terakhir yang kami kunjungi, ibu saya mencoba satu baju yang cantik . Dan karena ketidaksabaran saya, maka untuk kali ini saya ikut masuk dan berdiri bersama ibu saya dalam fitting room, saya melihat bagaimana ibu mencoba pakaian tersebut, dan dengan susah mencoba untuk mengenakannya. Ternyata tangan-tangannya sudah mulai dilumpuhkan oleh penyakit radang sendi dan sebab itu dia tidak dapat melakukannya, seketika ketidaksabaran saya digantikan oleh suatu rasa kasihan yang dalam kepadanya. Saya berbalik pergi dan coba menyembunyikan air mata yang keluar tanpa saya sadari. Setelah saya mendapatkan ketenangan lagi, saya kembali masuk ke fitting room untuk membantu ibu mengenakan pakaiannya.

Pakaian ini begitu indah, dan ibu membelinya. Shopping kami telah berakhir, tetapi kejadian tersebut terukir dan tidak dapat dilupakan dari ingatan …
Sepanjang sisa hari itu, fikiran saya tetap saja kembali pada saat berada di dalam fitting room tersebut dan terbayang tangan ibu saya yang sedang berusaha mengenakan pakaiannya. Kedua tangan yang penuh dengan kasih, yang pernah menyuapi, memandikan saya, memakaikan baju, membelai dan memeluk saya, dan terlebih dari semuanya, berdoa untuk saya, sekarang tangan itu telah menyentuh hati saya dengan cara yang paling berbekas dalam hati saya. Kemudian pada malam harinya saya pergi ke kamar ibu saya mengambil tangannya, lantas menciumnya … dan yang membuatnya terkejut, saya memberitahunya bahwa bagi saya kedua tangan tersebut adalah tangan yang paling indah di dunia ini. Saya sangat bersyukur bahwa Tuhan telah membuat saya dapat melihat dengan sejelasnya, betapa bernilai dan berharganya kasih sayang yang penuh pengorbanan dari seorang ibu.

Saya hanya dapat berdoa bahwa suatu hari kelak tangan saya dan hati saya akan memiliki keindahannya tersendiri. Dunia ini memiliki banyak keajaiban, segala ciptaan Tuhan yang begitu agung, tetapi tak satu pun yang dapat menandingi keindahan tangan Ibu…

(diceritakan kembali oleh kertaskecil,
agar setiap orang di dunia ini lebih mencintai dan menyayangi ibu-nya)

Comments Off

Post

Bidadarimu

In Ibu on 26 September 2008 oleh nurHartato

Alkisah, bayi yang akan dilahirkan kemuka bumi berkata kepada Tuhan, Tuhan, sebentar lagi aku akan lahir kebumi, tetapi bagaimana aku bisa hidup disana sedangkan tubuhku ini begitu kecil dan rapuh?

Tuhan menjawab sambil tersenyum, Aku akan menugaskan salah seorang bidadari-Ku untuk menemani dan menjagamu disana.

Tetapi, sekarang ini aku hidup disurga. Tidak ada yang aku kerjakan selain bernyanyi dan bergembira. Aku hidup bahagia disini.

Janganlah sedih. Bidadarimu kelak akan bernyanyi dan bermain main bersamamu sepanjang hari, ia akan mencurahkan cintanya padamu dan membuatmu bahagia.

Tetapi, bagaimana aku bisa bercakap-cakap dengan orang lain disana bila aku tidak memahami bahasa mereka?

Oh, bidadarimu akan menceritakan cerita-cerita yang indah dan manis yang belum pernah kau dengar. Dengan penuh sabar dan kasih saying bidadarimu akan mengajar kau berkata-kata dan berbicara.

Lalu, apa yang harus aku lakukan bila aku rindu dan ingin berbicara dengan-Mu?

Bidadarimu akan mengajarkan bagaimana kau bisa berdoa kepada-Ku.

Oh Tuhan, aku dengar dibumi banyak orang jahat. Lalu siapakah yang akan melindungiku?

Bidadarimu akan membela dan melindungimu meskipun ia harus mengorbankan nyawanya sendiri.

Tetapi, aku sedih karena aku tidak bisa melihat-Mu lagi.

Bidadarimu akan selalu berbicara tentang aku dan mengajarkan bagaimana kau bisa beribadah kepada-Ku meskipun sesungguhnya ku selalu berada didekatmu. Jauh lebih dekat dari prasangkamu.

Waktu kelahiran semakin dekat. Ia harus segera meninggalkan surga dengan damai. Tergesa-gesa ia kembali bertanya, Tuhan, tidak lama lagi aku akan pergi. Aku mohon Kau berkenan memberitahuka kepadaku siapakah nama bidadariku itu?

Nama bidadarimu itu tidak penting. Kelak kau akan memanggilnya Ibu.

Nb : Pertanyaan :
1. Sudahkah kita berterima kasih kepada bidadari kita, atas semua perhatiannya ??
2. Kapan terakhir kali kita menghubungi ibu kita ?
3. Kapan terakir kali kita menanyakan kabar ibu kita ?
4. Kapan terakhir kali kita membuat hati Ibu kita bahagia ??
5. Kapan terkhir kali kita mengatakan kepada Tuhan bahwa kita bersyukur telah menerima bidadari yang begitu sempurna?

Yuliana
Diposting oleh “KertasKecil”

Post

Mawar Untuk Ibu

In Ibu on 26 September 2008 oleh nurHartato

Seorang pria berhenti ditoko bunga untuk memesan seikat karangan bunga yang akan dikirimkan kepada sang ibu yang tinggal 250 KM darinya. Begitu keluar dari mobilmya, ia melihat seorang gadis kecil berdiri ditrotoar jalan sambil menangis tersedu-sedu. Pria itu bertanya mengapa gadis kecil itu menangis dan gadis kecil itu menjawab,Saya ingin membeli setangkai bunga mawar merah untuk ibu saya. Tetapi saya hanya mempunyai uang lima ratus rupiah, sedangkan harga mawar itu seribu rupiah.

Pria itu tersenyum dan berkata, Ayo ikut aku, aku akan membelikan bunga yang kau mau. Kemudian, ia membelikan gadis kecil itu setangkai mawar merah, sekaligus memesan karangan bunga untuk dikirimkan kepada ibunya.

Ketika selesai dan hendak pulang, ia menawarkan diri utuk mengantarkan gadis itu pulang kerumah. Gadis kecil itu melonjak gembira, katanya, Ya, tentu saja. Maukah Anda mengantar saya ketempat ibuku?

Kemudian mereka berdua menuju tempat yang ditunjuk gadis kecil itu, yaitu pemakaman umum. Setibanya disana gadis kecil itu meletakkan bunganya pada sebuah kuburan yang masih basah. Melihat itu, hati pria itu menjadi terenyuh dan teringat akan sesuatu. Bergegas ia kembali menuju toko bunga tadi dan membatalkan kirimannya. Ia mengambil karangan bunga yang telah dipesannya dan mengendarai sendiri kendaraannya sejauh 250 KM menuju kerumah ibunya.

Nb : Hargailah Ibu, dan hormatiah dia sebelum terlambat, sayangilah ia senantiasa.

From Semangkuk Mie Kuah
Diposting oleh “KertasKecil”

Post

Ibu

In Ibu on 26 September 2008 oleh nurHartato Ditandai:

Pada Saat Tuhan Menciptakan Para Ibu Ketika itu, Tuhan telah bekerja enam hari lamanya.
Kini giliran diciptakan para ibu.

Seorang malaikat menghampiri Tuhan dan berkata lembut: “Tuhan, banyak nian waktu yg Tuhan habiskan untuk menciptakan ibu ini?”

Dan Tuhan menjawab pelan: “Tidakkah kau lihat perincian yang harus dikerjakan?

01) Ibu ini harus waterproof (tahan air / cuci) tapi bukan dari plastik.

02) Harus terdiri dari 180 bagian yang lentur, lemas dan tidak cepat capai

03) Ia harus bisa hidup dari sedikit teh kental dan makanan seadanya untuk mencukupi kebutuhan anak-anaknya

04) Memiliki kuping yang lebar untuk menampung keluhan anak-anaknya.

05) Memiliki ciuman yang dapat menyembuhkan dan menyejukan hati anaknya.

06) Lidah yang manis untuk merekatkan hati yang patah, dan

07) Enam pasang tangan!! —

Malaikat itu menggeleng-gelengkan kepalanya “Enam pasang tangan….? tsk tsk tsk” — “Tentu saja! Bukan tangan yang merepotkan Saya, melainkan tangan yang melayani sana sini, mengatur segalanya menjadi lebih baik….” balas Tuhan.

08) Juga tiga pasang mata yang harus dimiliki seorang ibu.

“Bagaimana modelnya?” Malaikat semakin heran.

Tuhan mengangguk- angguk. “Sepasang mata yang dapat menembus pintu yang tertutup rapat dan bertanya: “Apa yang sedang kau lakukan di dalam situ?”, padahal sepasang mata itu sudah mengetahui jawabannya. “Sepasang mata kedua sebaiknya diletakkan di belakang kepalanya, sehingga ia bisa melihat ke belakang tanpa menoleh. Artinya, ia dapat melihat apa yang sebenarnya tak boleh ia lihat dan sepasang mata ketiga untuk menatap lembut seorang anak yang mengakui kekeliruannya. Mata itu harus bisa bicara! Mata itu harus berkata: “Saya mengerti dan saya sayang padamu”. Meskipun tidak diucapkan sepatah kata pun.

“Tuhan”, kata malaikat itu lagi, “Istirahatlah”

“Saya tidak dapat, Saya sudah hampir selesai”

09) Ia harus bisa menyembuhkan diri sendiri kalau ia sakit.

10) Ia harus bisa memberi makan 6 orang dengan satu setengah ons daging.

11) Ia juga harus menyuruh anak umur 9 tahun mandi pada saat anak itu tidak ingin mandi….

Akhirnya Malaikat membalik balikkan contoh Ibu dengan perlahan.
“Terlalu lunak”, katanya memberi komentar.
“Tapi kuat”, kata Tuhan bersemangat.
“Tak akan kau bayangkan betapa banyaknya yang bisa ia tanggung,pikul dan derita.
“Apakah ia dapat berpikir?” tanya malaikat lagi.
“Ia bukan saja dapat berpikir, tapi ia juga dapat memberi gagasan, ide dan berkompromi”, kata Sang Pencipta.
Akhirnya Malaikat menyentuh sesuatu dipipi. “Eh, ada kebocoran disini”
“Itu bukan kebocoran”, kata Tuhan. “Itu adalah air mata…. air mata kesenangan, air mata kesedihan, air mata kekecewaan, air mata kesakitan, air mata kesepian, air mata kebanggaan, airmata…., airmata….”

(Yuliana, di posting oleh KertasKecil)