Dalam mencari Kebahagiaan Hidup, dalam esensi kearifan lokal khususnya jawa, wong urip iku kudu ngerti :
Sopo sing paring urip…
Sopo sing ngurip-urip…
Sopo sing nguripi…
lan…. opo sambekalaning urip…
“Sing paring urip” , yang memberi hidup itu Gusti Allah, menurut agama dan kepercayaan masing-masing, karena itu kita harus tahu bagaimana berterima kasih (bersyukur) kepada-Nya.
“sing nguripi urip”, yang merawat hidup adalah orang tua, karenanya itu anak harus berbakti kepada orangtua.
“sing nguripi urip”, yang menghidupi hidup kita adalah bumi, bisa berarti tempat (lingkungan tinggal/kerja) kita hidup, dengan siapa kita hidup, karena itu kita harus ingat kepada alam beserta isinya dan sesama kita.
lalu apakah “sambekalaning irup”, hambatan-hambatan hidup, apapun yang membuat kita celaka (bisa dibaca serakah) yaitu : 3 ta yang dianggap sebagai pencapaian kebahagiaan.
Orang hidup bisa merasa bahagia hanya kalau tahu, bagaimana berterima kasih, mensyukuri apa yang dimiliki…. dan selalu berpegang 3 pegangan hidup . yaitu “ngrumongso handarbeni, wajib angrungkebi, lan mulat sariroangrosowani” (merasa memiliki, harus bertanggungjawab dan berkehendak/bertindak melestarikan)
sepenggal catatan buat saya sendiri, yang disarikan dari tulisan Harian KOMPAS tanggal 4 Juni 2009 artikel SOSOK oleh Maria Hartiningsih dan Gesit Aryanto.