Arsip untuk Juni, 2009

Post

Pembangunan Gereja Baru St. Polikarpus-Grogol, Jakarta Barat

In Uncategorized on 22 Juni 2009 oleh nurHartato

Umat Paroki St. Kristoforus Jelambar – Jakarta Barat, pantas berterima kasih kepada segenap warga sekitar Stasi St. Polikarpus Grogol atas dukungannya sehingga gedung Gereja Stasi St. Polikarpus mendapatkan Surat IMB dari Pemda DKI belum lama ini. Sebenarnya, usaha untuk mendapatkan izin itu sudah dimulai sejak tahun 2003.  Barulah diawal tahun 2009 ini, izin itu dikeluarkan berkat keterlibatan semua pihak.  Sebagai tanggapan, panitia pembangunan gereja baru itu segera menggulirkan berbagai program kongkrit yang melibatkan semua umat. Menurut rencana panitia, pembangunan gedung Gereja St. Polikarpus sudah harus diselesaikan pada Desember 2010.

Menilik perizinan pembangunan gedung gereja itu, pikiran saya teringat dengan kutipan dari 1 Raja-Raja 8:18-20 tentang pembangunan Bait Allah. Dikatakan Tuhan kepada Daud, “Engkau bermaksud mendirikan rumah untuk nama-Ku dan maksudmu itu memanglah baik; hanya bukanlah engkau yang akan mendirikan rumah itu, melainkan anak kandungmu yang akan lahir kelak, dialah yang akan mendirikan rumah itu untuk nama-Ku.’

Bagi saya pribadi, teks ini memiliki dua pesan. Pertama, kita kadang-kadang ingin mengungkapkan rasa syukur kita dengan memberikan sumbangan untuk membangun rumah ibadat, tetapi saat dan waktunya belum tiba.  Kini, saatnya di mana rasa syukur kita itu dapat diwujudkan dengan pembangunan gedung Gereja St. Polikarpus ini.  Kedua, rumah ibadat itu dibangun dalam bingkai historis tertentu (hubungan kekeluargaan). Oleh karena itu, pembangunan gedung Gereja St. Polikarpus bukan hanya menjadi tanggung jawab umat Paroki St. Kristoforus, tetapi tanggung jawab semua umat Katolik, secara khusus umat Katolik yang mempunyai ikatan historis tertentu dengan Gereja St. Kristoforus seperti Gereja BHK Kemakmuran, Gereka Damai Kristus Kampung Duri, Gereja St. Andreas Kedoya, dan Gereja-gereja tetangga yang menjadi cikal bakal berdirinya maupun pengembangan Gereja St. Kristoforus.

Di lain pihak, saya pun terkesan dengan surat Rasul Paulus kepada umat di Korintus tentang makna pembangunan gedung gereja, “Tidak tahukah kamu, bahwa kamu adalah bait Allah dan bahwa Roh Allah diam di dalam kamu?  Jika ada orang yang membinasakan bait Allah, maka Allah akan membinasakan dia. Sebab bait Allah adalah kudus dan bait Allah itu ialah kamu” (1 Kor 3:16-17)

Benar bahwa tempat ibadat atau bait Allah bukan berarti tempat atau gedung saja, melainkan terutama dan pertama-tama adalah diri kita sendiri yang telah dipermandikan dalam nama Yesus.  Jika “Roh Allah diam di dalam diri kita” sehingga kita menjadi bait Allah – tempat mana Allah bersemayam melalui  Roh Kudus-Nya.  Maka, saya yakin bahwa dukungan dan bantuan semua umat beriman di mana saja terhadap pembangunan fisik gedung gereja baru ini adalah ungkapan kesadaran bahwa kita semua adalah saudara seiman dalam nama Yesus, sang Juru Selamat kita.

Adalah sangat diharapkan, jika setiap umat di mana pun, terutama para donatur, umat se-Keuskupan Agung Jakarta, tergerak hati untuk ikut memberi andil dalam membangun kehidupan umat Stasi St. Polikarpus Grogol – Jakarta Barat ini, kami sediakan nomor rekening atas nama : Yohanes Purwanto or Harris Gunario, BCA Cabang Tomang-Jakarta, 458 0306867.  Apapun bentuk sumbangannya dari Anda, kami senantiasa menyambut dengan senang hati.  Tuhan memberkati dan membalas segala kebaikan yang Anda berikan.

Adharta OngkosaputraPanitia Pembangunan Gereja St. Polikarpus Grogol – Jakarta Barat

Sumber : HATI BARU NO. 04 , TAHUN XII, APRIL 2009

Comments Off

Post

Mencari Kebahagiaan Hidup

In Kertas Hati on 5 Juni 2009 oleh nurHartato

Dalam mencari Kebahagiaan Hidup, dalam esensi kearifan lokal khususnya jawa, wong urip iku kudu ngerti  :

Sopo sing paring urip…

Sopo sing ngurip-urip…

Sopo sing nguripi…

lan…. opo sambekalaning urip…

“Sing paring urip” , yang memberi hidup itu Gusti Allah, menurut agama dan kepercayaan masing-masing, karena itu kita harus tahu bagaimana berterima kasih (bersyukur) kepada-Nya.

“sing nguripi urip”, yang merawat hidup adalah orang tua, karenanya itu anak harus berbakti kepada orangtua.

“sing nguripi urip”, yang menghidupi hidup kita adalah bumi, bisa berarti tempat (lingkungan tinggal/kerja) kita hidup, dengan siapa kita hidup, karena itu kita harus ingat kepada alam beserta isinya dan sesama kita.

lalu apakah “sambekalaning irup”, hambatan-hambatan hidup, apapun yang membuat kita celaka (bisa dibaca serakah)  yaitu : 3 ta yang dianggap sebagai pencapaian kebahagiaan.

Orang hidup bisa merasa bahagia hanya kalau tahu, bagaimana berterima kasih, mensyukuri apa yang dimiliki….  dan selalu berpegang  3 pegangan hidup . yaitu “ngrumongso handarbeni, wajib angrungkebi, lan mulat sariroangrosowani” (merasa memiliki, harus bertanggungjawab dan berkehendak/bertindak melestarikan)

sepenggal catatan buat saya sendiri, yang disarikan dari tulisan Harian KOMPAS tanggal 4 Juni 2009 artikel SOSOK oleh Maria Hartiningsih dan Gesit Aryanto.

 

Comments Off