perjalanan manusia tentu tak bisa terlepas dari keseluruhan kisah hidupnya, seperti foto diatas ini, meski hanya sepenggal kisah tapi bisa menggambarkan banyak cerita disana.
ketupat 65 episode 1986
catatan kertaskecil
Sebuah kisah yang menjadi refleksi buat diri kita.
Suatu saat di sebuah desa di Jepang ada tradisi anak akan membuang orang tua mereka yang sudah uzur ke hutan. Alkisah, suatu hari seorang pria berjalan tertatih-tatih karena membopong seorang wanita tua ke hutan untuk dibuang. Wanita tua itu adalah ibu kandungnya sendiri. Ketika pria itu menggendong ibunya ketengah hutan, disepanjang perjalanan sang ibu mematahkan ranting-ranting kecil yang bisa digapainya. Setelah sampai ditengah hutan, pria itu menurunkan ibunya sembari berkata: “Bu, kita sudah sampai.” Sebenarnya pria itu bergumul dengan perasaan sedih dihatinya, tetapi entah kenapa dia tega melakukannya. “Nak, Ibu sangat mengasihimu. Sejak kau kecil, Ibu memberikan semua kasih sayang dan cinta yang Ibu miliki dengan tulus, bahkan sampai detik ini.
Ibu tidak ingin engkau tersesat saat pulang nanti, karena itu tadi Ibu mematahkan ranting-ranting kecil disepanjang jalan. Ikutilah patahan ranting itu maka engkau akan sampai dirumah dengan selamat.” Demikian pesan si Ibu sambil memberikan pelukan untuk yang terakhir kalinya. Mendengar itu, hati si anak menjadi hancur, ia tak bisa lagi membendung air matanya. Sambil menangis ia memeluk ibunya sangat erat. Kemudian digendongnya wanita tua itu untuk dibawa pulang. Konon, pria itu merawat ibunya dengan penuh kasih sampai ajal memanggil ibunda tercinta. Ketulusan kasih seorang ibu tidak berubah!
Kisah ini menjadi peneguh bagi kita bahwa kasih sayang seorang ibu tidak pernah berubah, meskipun seorang anak tega berbuat jahat kepada wanita yang sudah mengandung, melahirkan, merawat dan membesarkannya. Di zaman ini, tidak sedikit kita menjumpai kejadian yang demikian. Memang sudah tidak ada lagi anak yang membuang orang tuanya ketengah hutan, tetapi ada banyak anak yang sibuk mengurus bisnis atau kehidupannya sendiri dan membiarkan orang tuanya menjalani hari tuanya dalam kesepian yang tidak bertepi. Ada pula anak yang karena tidak mau susah malah memasukkan orang tuanya ke panti jompo, dan jarang sekali pergi membesuknya.
Dulu waktu kita kecil, orang tua kita juga sibuk mencari nafkah yang akan digunakan untuk membeli susu, pakaian dan biaya sekolah kita, tetapi mereka tetap merawat kita. Tentu akan lebih mudah dan tidak merepotkan jika mereka menitipkan kita untuk diasuh serta dibesarkan dipanti asuhan atau dirumah singgah, tetapi mereka tidak melakukannya karena mereka mengasihi kita dengan tulus. Mengapa kita tidak memberikan cinta yang sama besarnya dengan cinta yang sudah kita terima dari mereka selama puluhan tahun?
Seharusnya kasih itu menular, lalu mengapa kasih orang tua itu tidak menular kepada kita? Mungkin karena kita terlalu egois dan tidak mau direpotkan. Mulai hari ini baiklah kita belajar untuk menghormati ibu, bapak atau mertua kita sepenuh hati. Lakukanlah, karena ada berkat khusus bagi orang yang menghormati orang tuanya!
From Inspiring Stories
Kuncung ireng pancal putih,
Swarga durung weruh,
Neraka durung wanuh,
Mung donya sing aku weruh,
Uripku aja nganti duwe mungsuh.
Ribang bumi ribang nyawa,
Ana beja ana cilaka,
Ana urip ana mati,
Precil mijet wohing ranti,
Seneng mesti susah,
Susah mesti seneng,
Aja seneng nek duwe,
Aja susah nek ora duwe.
Senenge saklentheng susahe sarendheng,
Susah jebule seneng,
Seneng jebule susah,
Sugih durung karuan seneng,
Ora duwe durung karuan susah,
Susah seneng ora bisa disawang,
Bisane mung dirasakake dhewe.
Kapiran kapirun sapi ora nuntun,
Urip aja mung nenuwun,
Yen sapimu masuk angin tambanana,
Jamune ulekan lombok,
Bawang uyah lan kecap,
Wetenge wedhakana parutan jahe,
Urip kudu nyambut gawe.
Pipi ngempong bokong,
Iki dhapur sampurnaning wong,
Yen ngelak ngombea,
Yen ngelih mangana,
Yen kesel ngasoa,
Yen ngantuk turua.
Pipi padha pipi,
Bokong padha bokong,
Pipi dudu bokong,
Onde-onde jemblem bakwan,
Urip iku pindha wong njajan,
Kabeh ora bisa dipangan,
Miliha sing bisa kepangan,
Mula elinga dhandhanggulane jajan.
Pipis kopyor sanggupira lunga ngaji,
Le ngaji nyang be jadah,
Gedang goreng iku rewange,
Kepethuk si alu-alu,
Nunggang dangglem nyengkelit lopis,
Utusane tuwan jenang,
Arso mbedhah ing mendhut,
Rame nggennya bandayudha,
Silih ungkih tan ana ngalah sawiji,
Patinira kecucuran.
Ki Daruna Ni Daruni,
Wis ya, aku bali menyang Giri,
Aku iki Kyai Petruk ratuning Merapi,
Lho ratu kok kadi pak tani?
Sumber: buku Air Kata-Kata, karangan Sindhunata.
Dr.Gabriel Possenti Sindhunata, S.J., atau lebih dikenal dengan nama pena Sindhunata dan juga dikenal dengan panggilan populernya Rama Sindhu (atau dibaca “Romo Sindhu” dalam bahasa Jawa) adalah seorang imam Katolik, anggota Yesuit, redaktur majalah kebudayaan “BASIS“. Sejak masa kecilnya hingga tamat SMA ia hidup di kampungnya di kaki Gunung Panderman.
mBah MariDjan
Banyak kisah dan cerita tentang mBah MariDjan yang kita baca dan dengar
tapi ada sisi lain yang perlu kita maknai, saya sunting disini :
Beberapa kali saya bertemu Mbah Maridjan.
Jauh sebelum Mbah Maridjan diperlakukan khalayak sebagai ”selebriti” dan kemudian membuat yang bersangkutan cenderung agak menutup diri, saya diperkenalkan kepadanya oleh temanteman seniman. Kami ngobrol gayeng di rumahnya yang sederhana di lereng Merapi. Perbincangan dalam bahasa Jawa.
Masih saya ingat jawabannya, ketika seorang teman bertanya kepadanya: Mbah, kesenian sing apik ki sing piye (kesenian yang bagus itu yang seperti apa)? Tercenung sejenak, dengan gayanya yang khas Mbah Maridjan bilang, ”Kesenian sing apik, ditiru ora iso, dicacat ora cacat.”(Kesenian yang baik, ditiru tidak bisa, dijelekkan tidak menjadi cacat).
Beberapa ungkapan Mbah Maridjan dikenang teman-teman. Rekan wartawan yang dekat dengannya ingat, ketika berkomentar bahwa desa ini resep (nyaman), Mbah Maridjan menukas: ”Resep opo? Senep….” (Nyaman apaan? Senep). Dengan itu Mbah Maridjan hendak mengungkapkan kemiskinan sehari-hari penduduk setempat—yang oleh kacamata luar dipandang asri permai tenteram.
Pada perkembangan selanjutnya, Mbah Maridjan sering muncul di televisi. Posenya terpampang di baliho serta di bis-bis kota di Jakarta sebagai bintang iklan. Terlihat di televisi pula, kediaman Mbah Maridjan tidak seperti dulu ketika saya kenal. Rumahnya mentereng, ubinnya berkilat.
Ketika televisi menayangkan Mbah Maridjan berlari-lari menutup muka menghindari kamera wartawan, selintas saya ingat Putri Diana. Nasib mereka kurang lebih sama. Sama-sama orang sederhana, tiba-tiba harus berada di panggung media massa dengan bahasa yang tak sepenuhnya mereka pahami. Mbah Maridjan tak beda dengan kita semua. Media massa, terlebih kenyataan gadungan televisi, telah membawa orang tercerabut dari realitas.
Dulu, stres Diana yang tak tertanggungkan bisa dilihat dari bahasa tubuh: memainkan kuku-kuku jari, kadang menggigitnya, kepala menunduk, mata melirik. Pada Mbah Maridjan, terlihat dengan gejala menutup diri. Seperti koala yang bisa kaget dengan entakan sekecil apa pun, misalnya bunyi jepretan kamera, begitu kurang lebih Mbah Maridjan. Sontak dia masuk cangkang begitu kamera mengarah kepadanya.
Pada makhluk-makhluk yang sensitif seperti koala, masih ada pihak yang melindungi. Misalnya dengan peraturan ketat: dilarang memotret, sedangkan Mbah Maridjan? Tiap detik privasinya dirambah, tanpa si perambah merasa bersalah. Akibat selanjutnya adalah keterasingan.
Tragedi keterasingan sudah sering diungkap berbagai karya seni dari sastra sampai film. Ujung dari itu semua adalah ”death wish”—kematian hanya sejengkal di depan kehidupan yang tak kita mengerti.
Mbah Maridjan barangkali bisa mengoperasikan kewaskitaannya menghadapi awan panas yang disebutnya ”wedus gembel”. Hidupnya akrab dengan semua gejala alam sehingga awan panas pun disebut mesra wedus gembel, harimau disebut kiaine, dan seterusnya. Namun wedus gembel media massa?
Ketika Julius Caesar ditusuk oleh sahabatnya sendiri, Brutus, sebelum tumbang sang kaisar hanya bisa berucap: ”Et tu? Brute?” (… dan kau, Brutus?).
Kita tidak tahu apa yang kira-kira terungkap dari Mbah Maridjan sebelum ajal menjemput. Adakah ”Et tu? Media?” Sampeankah itu, televisi…. ***
diambil dari Kompas Minggu, 31 Oktober 2010, ditulis oleh Bre Redana
BRE REDANA Cerpenis dan kolomnis ini menjalani masa-masa sebagai siswa SD Kanisius (1970) dan SMP Negeri 2 (1973) di kota kelahirannya, Salatiga, Jawa Tengah. Waktu kuliah itulah ia berkenalan dengan dunia jurnalistik dengan aktif di pers mahasiswa Gita Mahasiswa.